Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

Metal Bikin Kesal



Saya termasuk orang yang masih menggunakan jasa warnet untuk mengakses dunia maya. Jadi, tadi malam saya datang ke warnet tempat biasa saya nebeng bermain internet. Sebelumnya saya pengen sedikit cerita dulu bahwa di warnet tersebut, para operatornya sering memutar lagu-lagu yang cukup menghibur untuk mengiringi para pelanggannya. Saya sering kali sampai setengah bosan juga kalau ada salah satu operator yang pasti memutar lagu-lagu kekinian seperti Akon, Ne-Yo atau lagu-lagu Indoensia hingga dugem berulang-ulang sampai saya hafal hehe..

Tapi tadi malam saya mendengar ada lagu Avenged Sevenfold entah yang mana terdengar disitu. Hal yang biasa terjadi, tapi ternyata memang bukan sang operator yang memutar lagu tersebut karena operator memutar lagu lain. Untuk beberapa saat, saya sibuk dengan kegiatan saya sendiri sampai akhrinya, saya pun mulai terganggu. Tidak ada yang melarang memutar musik seperti itu, tapi warnet tersebut juga menyediakan headphone. Mungkin sebaiknya dia meminta headphone agar bisa mendengarkan musiknya dengan puas.

Lagu Simple Plan yang diputar oleh sang operator beradu dengan musik-musik metal yang entah datang dari komputer sebelah mana dan demi Tuhan, terdengar sangat annoying sampai-sampai sang operator yang menurut saya lebih berhak memutar lagu kencang-kencang mengalah dan menurunkan volumenya. Akhir-akhir ini saya berusaha menghargai selera orang dan menjadi sangat objektif tapi tadi malam, saya terpaksa meludah.

Orang yang akhirnya saya tahu berpenampilan seperti yang orang-orang bilang alay tersebut memutar lagu-lagu metal yang menurut saya tidak bagus. Dia memutar deathcore melodius yang cengeng. Lalu mungkin karena itu adalah streaming, dia berpindah-pindah ke band lain dan tidak ada satu pun lagu yang saya dengar bagus. Ada yang seperti Korn, lalu entah band apa yang bervokal perempuan dengan nuansa gothic-nu metal kedengeran seperti Disturbed sedang sedih kemudian mencoba memainkan sesuatu seperti Within Temptations. Akhirnya, tadi malam saya pun membuat sebuah tweet: ini siapa si yg sok2 metalhead,lagu yg lu dengerin jelek beul,bandnya kaya yg baru blajar maenin metal

Dear f***ing metalhead (especially bollocks) wherever you are,
Tidak usah sok-sokan mendengarkan lagu metal ditempat umum keras-keras, karena tidak akan ada yang memuji kamu karena kamu mendengarkan lagu cadas, apalagi dengan memutar lagu-lagu jelek seperti itu. Dan satu lagi, perbaiki selera musik kalian, posers...!


Akhirnya, karena sepertinya bukan hak saya juga untuk menegur si banci metal itu, ketika saya melihat dia ada disebuah wraung dekat TKP, saya hanya bisa memelototi orang berambut duren dengan highlight kuning tersebut. Dasar kampungan.

...And Out Come The Wolves



Akhirnya setelah melewatkan masa-masa invasi musik alternative, saya pun akhirnya menyukai genre yang satu ini. Berangkat dari Pearl Jam, saya pun mulai mengenal band-band lainnya seperti Mud Honey, Soundgarden, Soul Asylum lalu Collective Soul dengan Shine-nya tapi entah kenapa, saya masih tidak menikmati Nirvana sementara Smashing Pumpkins menjadi salah satu band yang saya puja sampai sekarang.



Memasuki masa-masa SMA, saya juga kemudian mengenal british invasion tapi itu akan memiliki cerita sendiri nanti meskipun saya sangat menyukai Oasis saat itu. Bush termasuk ke dalam band unggulan, kemudian Silverchair. Hobi ini kemudian berlanjut waktu saya bertemu dengan Bonsay alias Rizky, salah satu sobat saya.

saya masih duduk di bangku kelas 1 SMA dan Bonsay datang sebagai murid baru yang hijrah dari Bogor, kemudian bersekolah di SMA 2 Cimahi. Saya sendiri sudah lupa bagaimana awalnya, tapi selera musik kami ternyata sama. Dia juga hobi mendengarkan musik-musik alternative dan dia sangat menyukai Green Day. Dasar jodoh, waktu itu saya juga mulai merambah ke musik yang disebut PUNK dan kebetulan, majalah Hai menerbitkan Hai klip khusus punk (saya upa lagi judulnya apa) setelah sebelumnya mereka merilis Hai klip british invasion dan grunge (kalau saya tidak salah). Bonsay kebetulan juga memiliki sepupu yang sangat menyukai punk,di masa-masa ini eksplorasi dan revolusi gendang telinga pun dimulai.



Album punk pertama saya adalah -sepertinya Dookie sudah tidak perlu disebutkan lagi- kumpulan hits-hits terbaiknya Sex Pistols yang saya lupa nama judul albumnya apa, ada yang ingat ? hehe.. tapi album yang paling mempengaruhi saya waktu itu adalah ...And Out Come The Wolves dari Rancid. Dan era baru permusikan saya pun dimulai sejak itu saya saya pun mengaku bahwa saya adalah seorang punk (oh ya? lihat saja nanti huehehe).







Double R is


"Hated by many, confronted by none
I trust two guys, one's God, and one is my gun
Jada is the nice guy, 'Kiss is the monster
D-Block and Double R is my sponsor"



Dalam posting sebelumnya saya menulis tentang seseorang yang saya sebut Double R. Dan ternyata, Double R nya menyadari hal tersebut (jelas lah karena saya tulis dan dia tau blog ini hehe ;D) dan akhirnya setelah sedikit ngobrol dengan beliau, saya pun memutuskan untuk bercerita disini tentang apa dan bagaimana sampai saya senang menyebut dirinya Double R.

Sebenarnya Double R adalah memang inisial namanya yang terdiri dari 2 huruf R. Tapi saya jadi senang menyebutnya karena, coba perhatikan kata-kata yang menjadi header dari posting ini.

Saya tahu mungkin kata-kata tersebut agak sedikit kasar atau sebut saja parental advisory. Kata-kata tersebut saya ambil dari sebuah lagu yang berjudul We're Back dari rapper DMX featuring Eve dan Jadakiss. Penggalan lirik tersebut saya ambil dari flow nya Jadakiss.

Double R adalah inisial dari perusahaan rekaman dimana DMX dan kawan-kawan seperti Eve, Jadakiss, Cassidy, Swizz Beatz bernaung, Ruff Ryders Entertainment. Lalu kenapa saya senang menyebutnya demikian ?

Jika membaca lirik di atas, Jadakiss memberikan kesan ia sedang show of force. Menunjukan dia seperti apa dan disitu dia bilang '...D Block and Double R is my sponsor' seolah-olah dengan adanya Double R, dia akan semakin kuat.

Jadi itulah latar belakang kenapa saya senang menyebut dia Double R. Mungkin saya bisa saja menulis atau menyebutnya RR, tapi itu terlalu biasa sementara dia memberikan kesan yang lebih dan tidak biasa, apapun itu yang jelas sesuatu yang positif untuk saya tentunya.

Bubuk Abate, Band Bernama Zoo dan Armin van Buuren



Salah satu hal yang menyenangkan dari malam minggu kemarin itu adalah saya bertemu dengan Double R. Sebagai pemuda yang orientasi seksualnya normal, tentu saja saya sangat senang bisa duduk berdua dengan beliau sambil meminum minuman favorit pesanan masing-masing di salah satu cafe ternama dibandung yang berinisal Ngopdul. Setelah bercerita tentang bagaimana saya bertualang dengan gagahnya di pedalaman Baduy, kami pun berpisah dan seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, saya dan beberapa teman akan menonton sebuah acara dimana bintang tamu utamanya adalah DJ asal Perancis yang menyebut dirinya DJ Urine.

Saya dijemput teman saya Dhado dan tiba di venue ketika hujan rintik-rintik halus turun dan perhatian saya masih tercuri oleh Double R karena saya tidak ingin dia pulang kemalaman. Tapi setelah memastikan dia santai-santai saja, ya sudah, mari kita tonton acara DIY yang saya lupa lagi namanya dan diorganisir oleh beberapa teman tersebut.

Sebenarnya, saya tidak sebegitu mengikuti acaranya karena kebanyakan yang berlaga malam itu adalah band-band noise. Saya tidak menyukai musiknya, hanya saya penasaran dengan DJ yang menjadi bintang tamu pamungkas acara tersebut. Jujur suasana agak kurang seru karena beberapa teman mabuk dan Dhado menyebut bahwa beberapa teman kami itu mabuk bubuk abate, sampai saya tertawa-tawa mendengarnya (saya tidak dalam keadaan mabuk waktu itu tentunya).

Dalam Gedung Indoensia Menggugat, dibawah guyuran hujan yang lumayan acara terus berlangsung dan saya bersama teman-teman hanya beberapakali masuk ke dalam arena,kemudian keluar lagi, terus begitu. Satu hal yang saya sukai dari acara DYI adalah, kita tidak perlu segan-segan, semua orang menikmati keberadaan mereka disitu. Berbeda dengan acara-acara komersial yang sering digelar di tempat-tempat lain. Saling memperhatikan, apresiasi yang kurang karena rupanya orang Bandung sekarang sebagian besar telah menjadi kritikus dan komentator musik.

Meskipun kurang memperhatikan jalannya acara karena malam itu saya benar-benar ingin menikmati malam minggu saya, beberapa penampil malam itu ternyata cukup menarik perhatian juga.

Sarcastic Death : band trashing grind (saya sendiri ragu menyebut genre mereka apa) asal Bandung tersebut malam itu sepertinya jadi salah satu band yang ditunggu. Sebenarnya saya tidak terlalu menyukai musik seperti itu tapi saya senang menontonnya dan Sarcastic Death menyuguhkannya dengan cukup apik. Salah satu lagu yang menempel di kepala saya adalah : Pemberontakan Itu Mahal (kalau tidak salah)

Zoo : saya menyesal sempat stuck diluar bersama Dhado dengan perbincangan setengah curhat ketika band asal Jogja ini memulai aksi mereka. Saya kebagian -tidak jelas juga- 2 atau mungkin 3 lagu saja. Tapi band (saya akan mengarang sebuah genre,siap-siap...) progressive-experimental mathcore asal Jogja ini awesome. Meskipun emmeiliki musik yang agak sulit dicerna, menurut saya mereka tampil memukau.

Terakhir tentu saja bintang utama acara malam tersebut, DJ Urine himself. Ada diantara Anda yang menyesal karena ketinggalan sebuah..ehem..party ? too bad...hehe..tenang saja, DJ Urine bukan seperti yang Anda pikirkan. Dia adalah DJ noise asal Perancis yang bernama asli Sebastien Lemonon. Ia tampil dengan nge-mix sebuah lagu Indonesia jaman dulu yang sangat pantas berkumandang di lokasi, kemudian melempar-lempar piringan hitam sampai menghancurkannya dan jangan tanya saya musiknya seperti apa, kali ini saya menyerah jika harus menyebutnya dengan sebuah genre hehehe..

Dengan embel-embel DJ, tidak heran jika malam itu ada yang tersesat datang ke Gedung Indonesia Menggugat dengan high heels dan hal ini juga terjadi di twitter saya.

Saya memasang twit dengan bunyi : 'Nonton DJ di Merdeka'

seorang teman perempuan pun membalas : 'DJ apa cyiiin ? Kok gw ga diajak :(('

akhirnya saya tandaskan saja: 'Ini Amir van Burem beb, lu ga akan suka'

Malam minggu kami pun ditutup dengan makan malam di sebuah pujasera favorit yang berada di jalan Surya Sumantri sebelum pulang.

I'm Bored Out Of Rock and Eddie Vedder Saves Me



Saya memang penggemar rock, tapi bukan berarti saya mendengar kan musik rock tok. Di masa SMP saya sempat juga doyan mendengarkan musisi-musisi yang sedang ngetrend di masa itu seperti Color Me Badd, All 4 One termasuk beberapa musisi yang lagu-lagunya sempat booming di era tersebut seperti John Waite nya Bad English yang sempat bersolo karir dan menelurkan hits In Dreams dari soundtrack film True Romance. Saya suka lagu itu.

Setelah sempat mengabaikan kemunculan pasukan punk yang sempat booming saat itu,mengesampingkan betapa kerennya Green Day dan tidak terlalu menyukai Nirvana, saya tiba-tiba merasa kurang bisa menikmati lagu rock lagi. Mungkin karena merasa jenuh, tiba-tiba saja kaset Dangerous Toys, Aldo Nova dan lain-lain menjadi kurang asik untuk dinikmati.

Seperti mulai dari awal, saya mendengarkan lagu-lagu yang diputar di radio GMR sebuah radio rock satu-satunya saat itu. Saya pikir mungkin saya sudah tidak lagi suka musik rock, tapi pada kenyataannya saya masih menyukai musik-musik berdistorsi tersebut. Hanya saja sepertinya saya butuh variasi dan entah yang seperti apa.

Saat itulah saya mendengar Alive-nya Pearl Jam. Saya seperti mendengar sesuatu yang berbeda, sensasi yang lebih dari You Give Love A Bad Name. Tanpa pikir panjang, beberapa waktu setelah saya mendengarkan lagu dari Eddie Vedder dan kawan-kawan tersebut, saya pun membeli album Ten. Dan yes, hampir setiap hari saya memutar kaset tersebut bolak-balik dan mulai memiliki gitaris idola baru selain Richie Sambora, siapa lagi kalau bukan Stone Gossard. Rasanya seperti kasar, lebih liar, bertekstur dan semuanya menjadi sempurna dengan suara Eddie Vedder. Saya sangat menikmatinya bahkan waktu saya menginjak bangku SMA, guru bahasa Inggris saya sempat bertanya, 'what is your favourite band ?' dan si ABG yang baru saja melepas celana pendek birunya itu pun menjawab dengan pasti, 'Pearl Jam, mam !'.

Saya pun baru menyadari bahwa perubahan selera seperti yang dialami oleh Sam Dunn dari Metal A headbangers Journey itu memang ada. Hnaya saja dia menyentuh area thrash dan death metal sementara saya justru malah merambah ke alternative. Tapi ini, merupakan awal dari sebuah keseruan yang lain.

Romantika Masa Remaja (SMP)



Sama seperti blog-blog lainnya, saya juga akan sedikit menceritakan atau dengan kata lain mencurahkan isi hati saya alias curhat disini. Dan salah satu kisah yang ingin saya ceritakan adalah masa-masa dimana saya hanyalah seorang pelajar bercelana pendek biru yang, sedikit bodoh memang, dan dengan percaya dirinya menganggapo dirinya bisa menggaet para remaja putri itu dengan mudahnya.

Saya sudah sangat tahu bahwa kadang-kadang saya memang terjerat dengan perempuan yang memeiliki penampialn yang sensual (sepertinya semua laki-laki begitu) dalam hal ini menurut saya sensual itu adalah kulit tidak terlalu putih, perawakan sedang dengan tulang pipi yang menonjol, sorot mata agak dalam dan berambut panjang. Dan saya menemukan figur seperti itu di sekolah saya saat itu.

Namanya Eva. Dia mampu menarik perhatian saya karena penampilan fisiknya yang memenuhi kategori tersebut diatas -untuk ukuran anak SMP tentu saja- dan dia memang seorang gadis yang menarik. Eva itu adalah adik kelas tepat 1 tahun dibawah saya tepatnya kelas 1A waktu itu.
Ingin muntah barangkali rasanya mendengarkan ini tapi saya sering mengirim surat-surat cinta penuh dengan kata-kata manis merayu yang kadang-kadang sebagian kata-katanya saya ambil dari lirik-lirik lagu ballad band-band favorit saya tersebut. Termasuk didalamnya lirik Bon Jovi, L.A.Guns dan entah apalagi waktu itu.

Sesudah berusaha merayu si dia habis-habisan (kalau tidak salah) waktu itu akhirnya saya ditolak. Entah waktu itu saya sakit hati atau patah hati -sepertinya tidak- yang jelas saya masih ebrusaha untuk mendapatkan seorang Eva. Tapi ternyata, mehek-mehek anak baru gede ini agak sedikit berbuntut kurang menyedapkan.

Saya menerima kabar bahwa Eva 'digencet'. 'Digencet' pada waktu itu adalah kata lain dari dilabrak oleh seseorang atau lebih tepatnya beberapa orang kakak kelas perempuan. Saya agak terkejut mendengar hal itu apalagi berita yang sampai pada saya adalah Eva digencet kakak-kakak kelasnya gara-gara saya. Aga sedikit membingungkan karena saya tidak bisa mendapatkan siapa orang yang melakukan hal tersebut terhadap Eva karena Eva sendiri ketakutan untuk memberitahu siapa pelakunya. Maklum, kalau sampai ketahuan, bisa jadi dia bisa-bisa mendapatkan masalah yang lebih buruk lagi.

Setelah mencoba mencari tahu sendiri siapa pelakunya, saya pun memutuskan untuk membicarakan hal ini pada sepupu saya, yang juga adalah kakak kelas saya. Army, sepupu saya itu sama seperti anak-anak perempuan seumuran dia yang lain, cuman dia tomboy dan banyak teman laki-lakinya, yaaa...bisa dibilang dia itu agak seperti preman. Singkatnya, urusan ini pun selesai seperti membalikan tangan. Ngak ada kisah lanjutan dari kasus gencet-gencetan ini selain berita bahwa kakak kelasnya seperti kesal karena Eva dianggap mempermainkan saya. *Tuink* padahal saya sendiri nggak merasa seperti itu.

Kisah berlanjut dan akhirnya saya justru menggaet Audrey, adik dari salah satu temannya Army yang barnama Airin. Ditengah-tengah hubungan saya dengan Audrey tiba-tiba berhembus kencang gosip yang menyebutkan bahwa saya dan Audrey jadian atas perjodohan mengingat Audrey adalah adik sahabat Army, Airin. Sebenarnya saya sih baik-baik saja mendengar kabar itu tapi Audrey merasa agak tidak nyaman. Sialnya kabar tersebut entah bagaimana caranya sampai ke Army yang untung saja dia memang tidak segarang itu. Dia cuma bilang akan mencari siapa penyebar gosip tersebut dan saya yang akan menyelesaikannya sendiri.
Hanya satu hari yang dibutuhkan Army dan kawan-kawan untuk mendapatkan nama penyebar gosip dan saya agak terkejut bahwa nama yang keluar adalah EVA. Saya sempat bingung harus bagaimana tapi akhirnya saya mengajak Eva berbicara 4 mata saja di ruangan OSIS dan untuk melakukan hal itu, saya juga meminta ijin pada pacarnya supaya tidak terjadi salah paham.
Alhasil Eva menangis tersedu-sedu bercucuran air mata. Terus terang waktu itu saya panik karena itu adalah pertama kalinya saya melihat seorang perempuan menangis, benar-benar menangis, di hadapan saya. Dan Eva pun sampai mengeluarkan kata-kata 'demi Allah' bahwa ia tidak pernah melakukan seperti apa yang dituduhkan kepadanya. Sementara saya bingung karena harus mengantar kembali Eva kembali ke kelasnya dengan kondisi masih menangis. Untung nggak ada guru yang ngeh dan menegur saya. Kebayang kan, kamu keluar berdua dengan seorang perempuan yang sedang menangis dari ruangan kecil yang sepi ;P
Akhirnya setelah beberapa lama, Army berhasil mengungkap misteri gosip tersebut. Gosip itu justru datang dari teman sekelas Audrey sendiri. Sebenarnya Army berniat untuk melabrak si penyebar gosip tapi Army tidak tega karena si pelaku adalah salah satu teman akrab Audrey dan memiliki kekurangan.

Lama berselang, umur hubungan saya dengan Audrey sama seperti cinta-cinta monyet yang lain, hanya 3 bulan saja. Saya pun naik ke kelas 3 dan lembaran baru dimulai. Menjadi kakak paling senior, murid baru dan pastinya kecengan baru. Tapi ternyata cerita saya nggak sebaru itu juga.

Satu kali seperti biasa kebetulan saya dan teman-teman yang lain pulang dengan menggunakan angkutan kota yang sama yaitu Stasiun Hall - Cimahi. Kami pun berada satu angkutan kota dengan para adik kelas yang kebetulan juga satu arah dengan kami diantaranya Alien yang cantik (kalau ada yang membayangkan dia seperti Alien Tumbuan yang model itu,anda tidak salah) dan tentu saja Eva. Waktu itu yang menempuh jarak paling jauh adalah saya dengan Eva. Setelah menempuh perjalanan penuh canda dan masing-masing teman kami sudah turun, terjadi percakapan yang mengejutkan.

"Kak Glen, kita udah digosipin jadian loh..." begitu Eva berkata pada saya dan saya menjawab singkat,

"Oh ya ?"

"Iya..." kami pun terdiam sejenak lalu Eva berkata lagi, "ummm...kak glen, apa kita nggak jadian aja ? soalnya udah tanggung jadi gosip..."

Mengejutkan memang dan saya sudah tidak bisa mengingat apa yang terjadi selanjutnya. Tidak, kami tidak lantas berciuman di angkutan kota waktu itu. Dia turun lebih dahulu dari saya, membayarkan ongkos kami dan melambai berjalan dibawah remangnya sore. Sebenarnya saya sangat ingin berkata 'I Do' tapi semuanya terlalu berlangsung dengan begitu cepat dan tiba-tiba.

Tidak beberapa lama kemudian, saya mendengar bahwa Eva akan pindah ke Bekasi karena alasan tertentu. Kabar burung ini saya terima dari teman-teman dan sebelum mendapat konfirmasi dari Eva, saya melihatnya berjalan keluar dari gerbang sekolah dan dia ternyata benar-benar pindah ke luar kota.
Sore itu, saya sekolah siang dan melihat Eva berjalan di lapangan voli sendirian dengan membawa tasnya. Seharusnya dia berada di dalam kelas karena jam pulang sekolah saat itu adalah pk 17:30. Saya dan beberapa teman sempat bercanda dengan meneriakinya mangkir dari dalam kelas tapi Eva hanya tersenyum. Dia melihat ke arah saya sambil terus berjalan. Waktu itu saya menyadari sesuatu dan saya hanya bisa terdiam. Eva terus melangkah keluar dari gerbang sekolah tanpa menoleh kebelakang dan itu adalah kali terakhir saya saling berpandang-padangan dengan Eva.

Ini kisah yang lucu memang dan tentu saja perasaan saya tidak sedalam itu. Hanya saja saya memang sempat kepikiran karena ada kabar yang menyebutkan bila Eva dan saya berpacaran kala itu, Eva mungkin tidak akan memutuskan untuk pindah ke Bekasi. Tapi ya sudahlah, itu hanya sedikit cerita masa remaja yang seru. Beberapa waktu yang lalu saya melihat dia di Facebook dan mutual friendnya adalah sepupu saya. Dan sekali lagi, Bon Jovi pun memberikan sumbangsih terhadap kisah cinta remaja saya waktu itu. I'll Be There For You sempat membuat saya termenung sejenak di dalam kelas sebelum akhirnya melupakan mehek-mehek ala ABG tersebut.

Why Did It Have To Be Rock ?



Karena saya -ironisnya- mengenal musik rock sejak duduk di bangku sekolah dasar. Awalnya, saya hanya menyukai lagu-lagu pop biasa saja karena paman yang sering mendengarkan musik dari musisi-musisi jaman itu seperti Jermaine Jackson, Milli Vanilli, dan tentu saja the one and only most famous boy band in the world, New Kids On The Block. Salah satu album yang sangat saya kenal waktu itu adalah Faith (setelah googling saya baru tahu itu adalah tahun 1987, yang berarti saya masih berumur 7 tahun) dari George Michael.



Dan dibanding saya harus mengidolakan George Michael, patut disyukuri selera saya berubah dengan cepatnya karena saat itu saya akhrinya mengetahui dan penasaran terhadap satu nama yang berkesan lebih garang dengan musik yang lebih keras juga waktu itu, Bon Jovi.
Satu kali, sebagai anak manis yang rajin dan selalu berusaha keras untuk memperoleh hasil terbaik di sekolah, demi reward dari orang tua sekitar jam 9 malam saya sudah terbaring dengan baik dan benar di tempat tidur saya dan bersiap-siap untuk memimpikan wonder woman (saya sangat suka baca komik dan wonder woman selalu digambar dengan pantat yang bagus).
Saya dan kakak saya waktu itu berada dalam 1 kamar yang terbagi menjadi teritori dia dan teritori saya selayaknya kakak beradik lain apalagi kakak saya perempuan. Yang jadi masalah adalah kakak saya itu perempuan yang tomboy sangat. Kalau waktu itu anak-anak perempuan seumuran dia mendengarkan Tommy Page, kakak saya akan berkata,

"Bon Jovi dooong...!" sambil mengacungkan salam tiga jari.



Jadi malam itu, Ardan sebuah radio terkenal di Bandung memiliki acara rock selama 1 jam dan kakak saya mendengarkan acara itu sambil berbaring dan mencorat-coret kertas yang jadi hobinya. Sense of art kakak saya bagus banget, sayang dia nggak bisa masuk seni rupa ITB karena orang tua kami tidak menyetujui.
Kakak saya sepertinya tidak menyadari kalau adiknya waktu itu sedang berkontemplasi. Dentuman drum yang semangat, gitar yang meraung, vokal yang lantang dan kadang-kadang menjadi sangat tinggi. Saya mendengarkannya dengan amazed, seperti ada percikan kembang api yang menceriakan. Akhirnya saya pun bertanya pada kakak saya,

"Kak, kalo yang kayak gini musik apa namanya ?"

Kakak saya pun menjawab dengan gayanya yang cuek-cuek itu,

"Ini namanya mucik rock, metal...!"

Dan sang adik pun tersenyum tipis terpukau dalam hati dia berkata,

"Rock is awesome..."



Semenjak malam itu, selera saya pun berubah, band rock favorit saya pertama kali adalah adalah Poison dan album rock pertama yang saya miliki adalah The Final Countdown dari band rock fenomenal asal Swedia, Europe.